Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais disebut menerima aliran dana sebesar Rp 600 juta yang berasal dari korupsi pengadaan alat ke...
Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais disebut menerima aliran dana sebesar Rp 600 juta yang berasal dari korupsi pengadaan alat kesehatan Kementerian Kesehatan tahun 2007.
Atas tuduhan itu, Amien Rais telah menjelaskan melalui jumpa pers terkait uang yang diterimanya.
Nama Amien yang disangkutkan dengan korupsi ini membuat keluarga Amien Rais ikut terusik.
Menantu Amien Rais, Ridho Rahmadi menuliskan catatan panjang tentang persoalan yang menyeret mertuanya itu.
Ridho menuliskan catatannya di akun Instagram istrinya, Tasniem Fauzie Rais, @tasniemrais, Sabtu (3/6/2017).
Berikut ini tulisan berseri Ridho yang berjudul "Tuhan Tidak Akan Diam".
"Tuhan Tidak Akan Diam
Adalah kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok, yang menjadi awal dari semua ini.
Polarisasi kelompok yang pro dan kontra melahirkan ekses yang berkepanjangan.
Kalau kita runut kembali, sesungguhnya aksi-aksi bela Islam adalah hal yang wajar karena pemeluk agama apapun yang taat, pasti tidak akan rela jika agamanya dihina.
Putusan pengadilan pada 9 Mei 2017 juga telah membenarkan secara hukum dan sah bahwa perbuatan Ahok adalah sebuah penodaan terhadap agama Islam.
Yang sangat disayangkan adalah aksi-aksi balasan yang dilakukan oleh kelompok pro Ahok.
Aksi-aksi tersebut tampak jelas sekali digiring dan diatur sedemikian rupa.
Sebagai satu contoh adalah aksi mengirim karangan bunga ke balai kota, sebagai bentuk simpati, yang konon mencapai ribuan.
Hal ini sesungguhnya sangat mudah untuk dipatahkan oleh akal sehat.
Lihat saja kondisi ekonomi rakyat Jakarta secara umum; apakah masuk akal untuk membeli begitu banyak karangan bunga?
Lebih jauh lagi adalah upaya-upaya kriminalisasi terhadap tokoh-tokoh yang menjadi motor dari aksi-aksi melawan Ahok.
Berbagai kasus seakan muncul pada momen yang bersamaan untuk membungkam aksi-aksi tersebut.
Bentuk kasusnya juga kelewat mengada-ada: upaya makar, pornografi, hingga korupsi.
Yang tidak kalah mengagetkan adalah, kriminalisasi ini dilakukan lewat aparat dan komisi yang menjadi alat negara.
Dari aksi-aksi balasan tersebut, sesungguhnya ada dua hal yang dapat dilihat.
Yang pertama adalah, siapapun yang berada di kelompok pro Ahok, mereka adalah pemilik modal yang mampu menggiring aksi dengan kapital yang besar.
Yang kedua, siapapun orang-orang ini, mereka adalah pemilik atau bersahabat baik dengan pemilik kekuasaan hingga mampu menggunakan alat-alat negara. (Bersambung di postingan setelah ini)
(Part 2) Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, siapakah orang-orang ini? Dan lagi, rasanya tidak perlu logika yang kompleks untuk menyebutkan siapa mereka; rakyat yang dianggap bodoh ini mulai belajar dari cara-cara yang bodoh seperti ini.
Seharusnya, orang-orang dalam kelompok ini mulai berpikir bahwa sesungguhnya tindakan-tindakan yang mereka lakukan adalah sebuah bumerang yang sedang berputar balik kepada mereka.
Siapapun mereka, yang barangkali merasa aman di balik tahta, kuasa dan harta; Tuhan tidak akan diam.
Ridho Rahmadi
Pittsburgh, 2 Juni 2017."
Tidak ada komentar dipostingan itu lantaran Tasniem mengunci kolom komentar sehingga netizen tak bisa menanggapi postingan tersebut.
COMMENTS